Realitas Semu Instagram

Posted on Posted in Uncategorized

       Saat ini dunia telah dikuasai oleh teknologi. Teknologi mampu menciptakan dunia baru bagi kehidupan manusia dan menawarkan banyak hal melalui internet. Teknologi telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Hampir setiap individu saat ini telah memiliki benda pipih yang bisa dibawah kemanapun mereka pergi. Benda pipih canggih atau biasa disebut dengan ponsel menjadi jembatan manusia untuk mengekspresikan diri. Di dunia maya masyarakat memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri, mengakses informasi dan menjalin interaksi dengan sesama tanpa terbatas ruang dan waktu. Dengan adanya internet kehidupan masyarakat saat ini semakin terasa ringan. Internet mendekatkan yang jauh namun bisa juga menjauhkan yang dekat. Dampak internet sendiri tidak selamanya positif karena internet bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan satu sama lain. Jika kita tidak bijak dalam menggunakan internet maka kita akan tertipu dan akan di kendalikan olehnya. Dampak internet sendiri tidak selamanya positif karena internet bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisah di pisahkan satu sama lain. Jika kita tidak bijak dalam menggunakan internet maka kita akan tertipu dan tunduk pada internet.
Media sosial merupakan salah satu hasil perkembangan teknologi informasi yang banyak di akses oleh masyarakat luas. Terutama instagram, instagram merupakan media sosial yang memiliki eksistensi tersendiri bagi penggunanya. Instagram menjadi wadah pengguna untuk mengekspresikan diri melalui foto dan video yang diunggah dan akan dilihat oleh pengguna instagram lainnya. Sehingga untuk mengunggah foto banyak hal yang di ubah dan di edit sebelum di unggah ke akun instagram. Sedangkan disisi lain, pengguna instagram lainnya menerima begitu saja apa yang kita unggah tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya. Ini terus berlanjut sedemikian rupa dan mampu mempengaruhi pemikiran kita. Tak heran apabila saat ini instagram menjadi salah satu media sosial yang banyak digandrungi oleh setiap pengguna internet untuk membangun citra diri.
Dengan mengunggah foto atau video pada instagram dapat menimbulkan rasa kepuasan tersendiri bagi para pengguna instagram, apalagi jika unggahan tersebut mendapatkan banyak like dari pengguna instagram lainnya. Semakin banyak like yang didapat maka artinya semakin positif citra yang telah dibentuk oleh kita. Hal ini memicu para pengguna instagram untuk berusaha mendapatkan citra positif dari apa yang mereka unggah. Padahal citra positif yang nampak dalam instagram belum tentu menjadi citra yang sesungguhnya dalam dunia nyata karena semua yang diunggah terlihat seperti nyata.
Simulacra Jean Baudrillard dengan gagasannya mengenai Ruang Simulacra mengatakan bahwa manusia saat ini berada dalam ruang simulacra yang mana didalamnya berisi realitas-realitas semu (hiperrealitas). Hiperrealitas sendiri berasal dari kata hiper yang memiliki arti lebih, diatas atau lebih dari normal sedangkan realitas merupakan kenyataan. Kenyataan yang di lebih-lebihkan begitupula apa yang disajikan dalam instagram. Para pengguna instagram menggungah foto yang sebelumnya telah dilakukan penyuntingan agar mendapatkan hasil yang maksimal dan mampu membuat pengguna instagram memberi like pada apa yang diunggahnya.
Para pengguna instagram memberi unggahan yang melebihi realita yang ada pada kenyataannya karena telah mengalami menyuntingan sebelumnya. Medhy Aginta Hidayat dalam bukunya yang berjudul Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard (2012) mengemukakan bahwasanya awal lahirnya masyarakat hiperrealitas ditandai oleh tanda dan citra yang terlihat lebih nyata dibandingkan realitas itu sendiri. Tanda adalah segala sesuatu yang memiliki arti atau makna sedangkan citra merupakan apa yang ingin ditampilkan oleh individu.

     Simulacra menjebak manusia untuk percaya pada yang semu itu adalah nyata. Dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan yang palsu sangatlah tipis.
Misalnya apa yang terjadi dalam televisi. Dalam televisi realitas tidak hanya di hasilkan tetapi juga disebarluaskan atau di produksi ulang bahkan ada yang dimodifikasi dan lama-kelamaan membentuk kesadaran baru bagi masyarakat. Saat ini media sosial nampak lebih real daripada kenyataan yang sebenarnya. Model, citra dan kode hiperrealitas berkembang menjadi pengontrol pikiran dan gerak-gerik manusia (Kellener dalam Hidayat, 2012 : 95).
Begitupula apa yang disajikan dalam instagram oleh para penggunanya. Semua yang ada dalam instagram merupakan tiruan dari realita yang sebenarnya namun diterima oleh penggua instagram bahwa hal tersebut adalah yang benar. Antara kenyataan dan apa yang di unggah dalam instagram memiliki perbedaan yang tak kasat mata. Banyak para pengguna instagram tertipu dengan apa yang disajikan di dalam instagram.
Menghadapi realitas semu yang ada pada instagram masyarakat dituntut untuk tidak terlalu percaya dan tidak menggunakan kebebasan dalam berekpresi di media sosial untuk menipu pengguna media sosial lainnya. Membedakan mana yang semu dan benar-benar nyata memanglah tidak mudah untuk saat ini namun memegang kendali terhadap perkembangan teknologi informasi sangatlah perlu karena jika tidak maka kitalah yang akan dikendalikan oleh apa yang telah kita ciptakan sendiri. Citra diri memang sangatlah penting namun mengkonsumsi apa yang tidak menjadi kebutuhan kita merupakan tindakan yang kurang bijak. Dalam ruang simulacra individu berlomba-lomba untuk mendapatkan citra positif sehingga apapun dilakukannya tanpa mengindahkan realitas yang ada. Banyak pengguna instagram yang tertipu oleh apa yang disajikan dalam instagram tersebut setelah mengetahui realita yang ada, karena yang disajikan dalam instagram sanggatlah hiperrealitas tak sama dengan keadaan aslinya.

“Hari ini kita hidup dalam dunia yang kaya akan informasi akan tetapi miskin makna”
(Jean Baudrillard)

Oleh : Ariansyah (16.CCC.E.000.849)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *